Dokterdia’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Memilih untuk Tidak Memilih

Setiap saat dalam hidup, kita selalu dihadapkan dengan pilihan. Seseorang yang pandai dalam memilihlah yang akan berhasil dalam menjalani hidupnya. Pilihan bukan tanpa konsekuensi, sekecil apapun urgensi pilihan kita akan selalu ada akibat yang mengikuti. Bahkan sebagai orang yang beragama, sebuah pilihan bukan hanya berakibat dalam hidup didunia tapi juga akan dimintai pertanggungjawaban oleh yang Maha Membalas di Akhirat nanti.

Semakin dekat dengan Pemilu dan Pemilihan Kepala Daerah Langsung, Semakin banyak pertanyaan yang berkecamuk dikepala penulis, siapakah yang akan dipilih, apa konsekuensi dari pilihan ini, bagaimana kalau pilihan saya kalah, bagaimana kalau menang, dan yang paling penting kalau saya memutuskan untuk memilih sudah betulkah pilihan saya !!. Pertanyaan ini mungkin banyak berkecamuk dikepala para pembaca, mungkin juga tidak. Tapi yang pasti dalam menentukan pilihan bukanlah suatu hal yang mudah dan bukan pula tanpa konsekuensi seperti yang sudah penulis ungkapkan diatas, apalagi dalam Pemilu yang mana suara kita akan turut menentukan masa depan daerah kita. Bahkan ada sebuah surat pembaca yang mengatakan bahwa apabila kita memilih pemimpin yang zalim maka kita juga termasuk orang yang zalim. Zalim atau tidaknya seorang penguasa tidak bisa terlihat saat mereka masih berstatus sebagai calon penguasa tapi baru terlihat setelah mereka betul-betul terpilih menjadi penguasa.
Bagi penulis untuk bisa memilih maka kita harus betul-betul mengenal mereka yang akan kita pilih. Salah satu kriteria yang paling mudah dilihat adalah dengan melihat keluarga dari sang calon. Karena keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat, jadi bagaimana mungkin seseorang mampu memimpin sebuah daerah dengan jumlah masyarakat yang begitu banyak kalau untuk memimpin keluarganya saja tidak becus. Sudah bukan rahasia lagi banyak para pemimpin kita baik nasional maupun daerah baik pemimpin eksekutif, legislatif bahkan akademisi, rumah tangganya hancur dengan isu perselingkuhan, anak-anaknya hancur dengan narkoba, seks bebas dan lain-lain.
Dari uraian diatas ditambah dengan budaya politik uang dengan hitung-hitungan yang begitu menakutkan sehingga penulis mengartikannya tak mungkin seorang calon terpilih tak korupsi atau apapun istilahnya. Karena rasanya apakah mungkin di zaman sekarang ini dengan calon yang kebanyakan dari muka-muka lama muncul seorang malaikat, sufi, yang mengorbankan sebagian besar hartanya bermilyar-milyar tanpa mengharapkan apapun. Rasanya mustahil !!!. Jadi sekarang timbul pertanyaan baru apakah kita harus memilih salah satu calon atau sebaiknya kita memilih untuk tidak memilih.
Memilih untuk tidak memilih merupakan suatu opsi baru yang patut dengan sangat dipertimbangkan, kenapa ? selain alasan-alasan diatas juga pemilihan secara langsung akan menjadikan seorang pemimpin terpilih yang sangat legitimate. Bahkan saking legitimatenya legislatif pun akan kesulitan mengontrolnya bahkan mungkin akan disepelekan karena mereka tidak dipilih DPRD tapi dipilih oleh rakyat langsung yang notabene lebih banyak dari jumlah pemilih anggota DPRD satu fraksi sekalipun.Bahkan dengan didemo oleh ribuan orang sekalipun seorang pemimpin dengan enteng akan dapat berkata bahwa yang memilih saya lebih banyak daripada jumlah kalian yang berdemo. Jadi dengan sistem pemilihan secara langsung namun dengan calon masih diusung oleh partai politik dengan kriteria yang kadang-kadang tidak jelas, tidak mengikutsertakan konstituen pemilih partai politik tersebut, nama timbul dari langit begitu saja, maka kemungkinan akan muncul pemimpin-pemimpin dengan arogan begitu besar, dan akhirnya yang dirugikan adalah masyarakat juga. Penulis berandai-andai kalau saja jumlah pemilih yang memutuskan untuk tidak memilih mencapai 30% saja maka siapapun pemimpinnya nanti tidak akan bisa arogan dan lebih berhati-hati karena dia tahu bahwa masih banyak penduduk yang tidak memilih.
Memang keputusan untuk tidak memilih banyak yang tidak setuju, karena mereka beranggapan bahwa bagaimanapun sebaiknya kita memilih setidaknya dengan mencari calon yang kemungkinan membawa mudhorat yang paling kecil. Tetapi bagaimana kita bisa menentukan pilihan kalau kita tidak begitu tahu siapa mereka. Inilah kelemahan Pemilu atau PilKaDa secara langsung yang paling penting karena keputusan untuk menentukan nasib bangsa atau suatu daerah diserahkan kepada orang banyak yang sebagian besar mungkin > 80% tidak mengenal siapa sebenarnya yang dipilihnya, yang mereka tahu hanyalah wajah-wajah manis sang calon dengan janji-janji perbaikan yang menggiurkan ditambah kebaikan hati mereka yang selalu memberikan sedikit uang, kaos, kalender, dll, tanpa sebelumnya tahu siapa sesungguhnya sang calon. Pemilihan Khalifah Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib Radhiallahuanhum sendiri tidak diserahkan kepada orang banyak, tapi diserahkan kepada sahabat-sahabat terdekat Rasululluah SAW yang sudah teruji keimanannya dan paling mengetahui siapa diri mereka, dan terbukti pada masa beliau-beliaulah pemerintahan Islam terbukti kejayaannya menjadi pengayom bagi seluruh umat bukan hanya umat muslim saja. Jadi dengan situasi pemilihan seperti sekarang dengan situasi legislatif seperti sekarang, dengan situasi birokrat sseperti sekarang, dengan situasi elit partai politik seperti sekarang, bahkan juga dengan situasi KPU seperti sekarang maka lagi-lagi pertimbangan memilih untuk tidak memilih menjadi salah satu prioritas utama untuk saat ini dan menurut penulis pilihan yang paling dapat dipertanggungjawaban.
Tentu seluruh uraian diatas hanyalah opini dari penulis saja tanpa bermaksud untuk mengajak apalagi memaksa orang lain untuk ikut-ikutan tidak memilih, memilih apapun pilihannya adalah hak masing-masing individu yang tidak bisa diganggu gugat oleh siapapun apalagi hanya oleh tulisan ini. Undang-Undang tentang pemilu juga menyatakan bahwa mengajak orang untuk tidak memilih dapat dikenakan sanksi pidana. Jadi sekali lagi penulis tegaskan bahwa tulisan ini bukan untuk mengajak orang supaya tidak memilih. Tulisan ini dibuat sebagai bahan diskusi bagi mereka yang sudah memilih untuk tidak memilih. Penulis sekalipun sampai saat ini belum memastikan untuk menentukan pilihan karena menuju Pemilu masih menyisakan waktu yang cukup untuk kemungkinan memilih dan memilah . Siapa tahu ada pertimbangan baru yang bisa membuat semuanya berubah. Wallahu A’lam bissawab.

Juli 13, 2009 - Posted by | Cinta Tanah Air | , , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: