Dokterdia’s Blog

Just another WordPress.com weblog

HAJI MABRUR

“Rasulullah SAW bersabda bahwa tak ada balsan yang setimpal bagi haji mabrur selain surga”.

Indonesia merupakan negara dengan kuota jumlah jamaah haji terbesar di dunia. Setiap tahun lebih dua ratus ribu rakyat Indonesia pergi menunaikan ibadah haji ke tanah suci. Belum lagi kalau kita mau tambahkan dengan jumlah jamaah tidak resmi atau yang sering kita sebut dengan “haji turis” tentu jumlahnya akan bertambah besar lagi. Di tengah berbagai krisis yang menimpa bangsa Indonesia tentunya kita akan tercengang melihat animo masyarakat untuk berangkat haji yang begitu besar.

Kuota haji Kalimantan Selatan saja katanya sudah penuh hingga bertahun-tahun ke depan.
Menjadi jamaah haji tentu bukan perkara yang mudah, perlu pengorbanan yang tidak sedikit, baik dari segi materi, waktu, tenaga dan pikiran serta perasaan. Betapa banyak orang yangf dari segi materi berlimpah namun tidak bisa menunaikan ibadah haji karena tidak mampu mengorbankan waktunya. Haji merupakan satu-satunya rukun Islam yang diwajibkan hanya satu kali seumur hidup dan secara tegas disebutkan hanya diperuntukkan bagi orang yang mampu saja. Mampu disini menurut penulis lebih condong kepada mampu secara materi, sedangkan mampu dalam masalah lain seperti mampu secara keilmuan, fisik, waktu seharusnya tidak akan menjadi masalah kalau orang tersebut benar-benar berniat untuk menunaikan ibadah haji. Fatwa sebagian ulama Saudi menyatakan apabila seseorang telah mampu untuk menunaikan ibadah haji namun ia menunda-nundanya tanpa ada uzur yang diperbolehkan secara syar’i dan kemudian meninggal sebelum sempat menjalankan ibadah haji maka ia mati dalam keadaan bukan muslim. Na’uzubillahi min djalik.
“Haji mabrur tak ada balasan yang setimpal kecuali surga” sabda Rasul yang membuat orang berlomba-lomba untuk menunaikan ibadah haji. Petani, nelayan, pegawai negri yang notabene penghasilannya “pas-pasan” menyisihkan hartanya bertahun-tahun bahkan sampai menjual asset yang dimilikinya untuk dapat menunaikan ibadah haji, tentunya dengan harapan mendapat haji yang mabrur. Namun siapa yang berhak menyandang gelar haji mabrur ?, tak seorangpun tahu, karena itu rahasia Allah semata. Akan tetapi para ulama sepakat bahwa tanda-tanda haji mabrur adalah terjadi peningkatan kearah perbaikan yang signifikan dalam pribadi orang tersebut setelah menunaikan ibadah haji. Secara gamblang bisa dikatakan ketika pedagang naik haji, maka pulangnya dia akan menjadi pedagang yang jujur. Jika pejabat naik haji, maka dia akan menjadi pejabat yang amanah, dan seterusnya. Secara gamblang juga bisa dikatakan ketika setiap tahun ratusan ribu rakyat Indonesia dari berbagai profesi termasuk didalamnya pejabat pemerintahan menunaikan ibadah haji, semestinyalah kita bisa berharap banyak Indonesia akan menjadi lebih baik. Tetapi apakah demikian ? ataukah kondisi bangsa tak berubah bahkan bertambah parah ??!. Apakah ini tanda haji kita semua tidak mabrur !??. Wallahu a’lam.
Haji mabrur merupakan hasil dari sebuah proses/rangkaian, dari persiapan pribadi, proses keberangkatan, ritual ibadah haji, sampai pulang ke kampung halaman. Pada saat berangkat tentunya semua orang punya niat yang sama, niat tulus untuk berhaji. Niat berhaji yang sudah bersih seharusnya terus dijaga selama ditanah suci. Pemerintah mempunyai peranan penting dalam menjaga niat suci ini supaya tidak ternoda. Masalah pemondokan misalnya, selama ini satu kamar berkapasitas 4 sampai 8 orang bahkan ada yang lebih. Bukan jumlah yang penulis permasalahkan di sini tapi yang paling memprihatinkan adalah bergabungnya laki-laki dan perempuan yang bukan muhrim, berkumpul bersama selama  38 hari tentunya sangat susah untuk menjaga aurat agar tak terbuka terutama bagi perempuan. Masalah ini sangat mengganggu kekhusu’an dan mengurangi nilai ibadah. Hal seperti ini harus segera dipikirkan pemecahan masalahnya oleh pemerintah. Pembimbing ibadah haji, baik yang dibiayai APBN atau APBD juga seharusnya ditambah bukan malah dikurangi tentu dengan proses seleksi yang benar-benar “independent” bukan jatah-jatahan atau balas budi pejabat untuk “teman-teman dekatnya”. Banyak lagi hal-hal “kecil” yang bisa mengganggu nilai ibadah yang harus diperhatikan pemerintah, agar “investasi” masa depan bangsa bernilai triliyunan rupiah yang dikeluarkan untuk menunaikan ibadah haji ini tidak sia-sia (hanya sekedar mendapat gelar Pa Haji atau Bu Haji saja), tapi haruslah investasi ini berarti bagi perbaikan bangsa. Sudah saatnya pemerintah (Badan Pengelola Haji Indonesia) tidak lagi memandang ibadah haji sebagai ritual tahunan biasa saja apalagi sebagai sebuah “proyek” yang bernuansa bisnis. Tapi juga harus meningkatkan pelayanan dengan tujuan akhir mengawal niat suci jamaah untuk menunaikan ibadah haji dan mendapat haji yang mabrur. Bukan hanya sekedar mengawal keberangkatan, ritual ibadah, dan kemudian mengawal kepulangan jamaah secara fisik saja, sebagaimana tampaknya sekarang dilakukan.
Seharusnya tugas pemerintah untuk mengawal niat suci jamaah ini tidak susah. Karena jamaah yang telah mengorbankan harta, waktu, tenaga, pikiran dan perasaan yang tidak sedikit tentunya juga tak ingin ibadahnya sia-sia. Dua ratus lima ribu jamaah haji resmi Indonesia ditambah ribuan jamaah haji “turis” lainnya tentu mempunyai keinginan yang sama untuk menjadi orang yang lebih baik ketika kembali ke tanah air (Haji Mabrur). Jadi dengan niat dan usaha yang tulus dari pemerintah maka seharusnya kloplah sudah. Jangan sampai pemerintah seperti kata A’a Gym dalam khutbah Arafahnya kalau mengelola orang yang berniat baik saja tidak mampu, bagaimana mungkin bisa mengelola bangsa yang tidak hanya terdiri dari orang yang berniat baik ?!!!

Juli 13, 2009 - Posted by | Agama | ,

4 Komentar »

  1. Assalamu’alaikum pak dokter saya mau tanya sudah hampir dua tahun saya nikah tapi belum juga hamil, siklus haidnya teratur tiap bulannya, apa ada hubungannya dengan pola makan? tinggi badan saya 155 cm berat badan saya 40 kg.sebelumnya saya ucapkan jazakumuloh khoir untuk jawabannya

    Komentar oleh yuyun | Januari 29, 2010 | Balas

    • Waalaikum salam, maaf balasan yg sangat tertunda lama, mudah2an masih d butuhkan, perkawinan lebih 2 tahun dgn tanpa KB dan frekuensi hub suami istri normal, masih belum d karuniai keturunan, sdh harus d lakukan pemeriksaan. Untuk kasus ibu saran yg bisa saya berikan: periksa kualitas dan kuantitas sperma suami, untuk ibunya dilakukan HSG untuk mengetahui fungsi dr saluran reproduksi ibu. Setelah d lakukan pemeriksaan baru bisa d lakukan langkah terapi selanjutnya. Mungkin itu saja yg bisa saya bantu, mudah2an berguna.

      Komentar oleh dokterdia | Agustus 20, 2011 | Balas

  2. blog nya sangat sangat bagus dan insya ALLAH bisa bermanfaat bagi yang membaca nya dan mempelajari nya isi blog ini…..mohon maaf sebelum nya kalau kata kata ALLAH itu kalau bisa huruf nya pakai huruf besar,,,,!!! dan nama NABI NABI …dan kata-kata misal nya nabi MUHAMMAD SOLLALLAHU “ALAIHISSALAM tlng pakai huruf besar biar tambah indah begitu…..!!!!! seperti ( S.A.W. ) kalau bisa jangan di singkat karena itu kata-kata yang mengandung DO”A………….mohon maaf barangkali saya menginformasikan kata-kata itu demi kelancaran antu dan pemabaca nya…..KHER INSYA ALLAH….JAZAKUMULLAHU KHEYR YA KHI KARIM

    Komentar oleh Kang Ato | September 17, 2011 | Balas

    • Alhamdulillah, terima kasih atas koreksinya, komentar anda mengembalikan kembali semangat menulis, sekali lagi syukron

      Komentar oleh dokterdia | September 20, 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: