Dokterdia’s Blog

Just another WordPress.com weblog

Menopause Pada Laki-laki

MENOPAUSE PADA LAKI-LAKI
(Andropause)
Oleh : dr. Diauddin H.B
Fasy_a@yahoo.com

Istilah menopause sangat identik dengan wanita setengah baya, hampir semua orang tahu tentang menopause, tapi tidak banyak yang tahu bahwa menopause ternyata juga bisa terjadi pada laki-laki.
Menopause pada laki-laki atau yang dinamakan dengan andropause adalah suatu istilah yang paling sering dipakai untuk menggambarkan kondisi pria diatas umur pertengahan atau tengah baya yang mempunyai kumpulan gejala, tanda dan keluhan mirip dengan menopause pada wanita. Adanya kondisi biologik dan biokhemis tertentu setelah usia tengah baya yang mendasari timbulnya perubahan fisik, psikologik dan emosi. Kondisi ini secara alami pasti terjadi dan seringkali mengakibatkan perasaan tidak bahagia.


Semua pria yang mampu mencapai usia tua pasti akan mengalami penurunan bioaktif hormon testosteron. Tetapi tidak semua orang akan mengalami penurunan sampai di bawah garis “fisiologis”. Yang paling umum adalah penurunan hormon testosteron tetapi masih dalam batas normal. Batasan normal yang fisiologis ini sangat lebar, sehingga penurunannya secara fisiologis masih tidak mengganggu “kesehatan”. Dengan demikian tidak semua pria merasakan akibat perubahan-perubahan yang tampak setelah setengah baya.
Dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk dunia dan meningkatnya angka harapan hidup dengan status sosial yang cukup, jelas terlihat bahwa masalah pria usia lanjut akan meningkat sehingga diperlukan kesadaran dan pengetahuan tentang manifestasi klinik, pemeriksaan yang diperlukan dan terapi yang sesuai untuk andropause.
Kapan andropause dimulai, akan ada perbedaan antara individu yang satu dengan yang lainnya, antara suku atau ras yang satu dengan yang lainnya atau antara golongan sosial ekonomi yang satu dengan yang lainnya. Bahkan antara jenis pekerjaan (tergantung kesehatan lingkungan kerja).
Pria yang memasuki masa andropause, yang dianggap mengalami problema serius serta benar-benar dianggap “sakit” hanya sekitar 15 %. Sekitar 50 % hanya mengalami keluhan yang dirasakan “tidak normal” atau merasakan adanya kemunduran. Sisanya, 35%, hanya mengalami “masa-masa buruk dalam beberapa minggu atau bulan saja.
Yang menarik adalah bahwa secara medis kecemasan atau keluhan atas kesehatannya jauh lebih menonjol daripada penyakitnya sendiri. Fenomena ini sering disimpulkan sebagai kekurang siapan mental psikologik setelah terjadi penurunan hormon testoteron.
Pengetahuan kedokteran mengenai andropause masih sangat minim dan penelitian yang mengkhususkan pada masalah andropause juga masih sangat sedikit. Oleh karena itu belumlah mungkin mengidentifikasi penyebab andropause secara akurat dan ilmiah murni. Meskipun demikian dapat diperkirakan beberapa penyebab penting antara lain :
a. Faktor Lingkungan
Dapat mempengaruhi secara langsung maupun tidak langsung sebagai penyebab yang bersifat organik maupun psikogenik. Bisa bersifat pencemaran lingkungan yang fisik maupun psikis. Faktor lingkungan yang bersifat Fisik misalnya : pemakaian bahan kimia yang bersifat estrogenik, biasa dipakai dalam bidang pertanian, pabrik dan rumah tangga. Yang bersifat psikis antara lain suasana lingkungan, kebisingan dan perasaan aman. Kedua faktor lingkungan diatas dapat menimbulkan stress fisik dan psikis yang dapat menimbulkan perubahan tekanan darah dan jantung serta organ tubuh lainnya.
b. Faktor Organik (Perubahan hormonal)
Terjadinya perubahan hormonal, yaitu penurunan kadar hormon testosteron dan lain-lainnya. Dengan terjadinya penurunan kadar testosteron maka semua metabolisme yang berkaitan dengan testosteron akan terpengaruh antara lain otot, tulang, susunan saraf pusat, prostat, sumsum tulang dan fungsi seksual.
Perubahan-perubahan ini dapat diperlambat dengan berbagai cara seperti mengatur pola hidup dan pola diet. Yang perlu diingat dan diperhatikan adalah menghindari pemakaian jamu-jamu kuat, obat-obatan perangsang, hormon yang banyak diiklankan. Karena pemakaian produk ini pada gilirannya justru akan memberikan efek umpan balik pada otak sehingga produksi hormon endogen akan makin cepat berkurang atau bahkan berhenti.
c. Faktor Psikogenik
Faktor psikogenik yang sering dianggap dapat menstimulasi timbulnya keluhan andropause antara lain adalah:
1. Tujuan hidup yang tidak realistik atau terlalu tinggi untuk dicapai
2. Pensiun (sering disebut sebagai post power syndrome)
3. Penolakan terhadap kemunduran
4. Stress tubuh
Mekanisme yang pasti dari berbagai gangguan psikologik dalam terjadinya berbagai keluhan pria andropause ini tidaklah begitu jelas. Tingkah laku dan kebiasaan yang dapat menurunkan kadar hormon testosteron dalam darah misalnya adalah : peminum alkohol, stress, olahraga fisik yang terlalu berat atau stress fisik lain yang menimbulkan kelelahan yang berlebihan, pemakaian obat-obatan (androgen yang bukan testosteron, Glukokortikoid, Danazol dan lain-lain)
Hubungan andropause dengan budaya atau kultur juga patut disimak. Banyak pakar berpendapat bahwa andropause adalah produk dari suatu budaya atau kultur. Semakin budaya itu “beradab”, maka seorang pria akan semakin dituntut untuk menentukan dan menemukan jati dirinya. Makin jauh perbedaan antara harapan dan kenyataan, maka makin besar pula kemungkinan akan timbulnya stress psikogenik.
Kesadaran dan bagaimana penerimaan kondisi kehilangan “kemudaannya” sangat mempengaruhi tingkah laku pria yang usianya telah melebihi tengah baya. Ada beberapa tingkah laku yang khas pada pria yang mulai mengalami andropause dapat dibagi sebagai berikut :
a. Berusaha berpenampilan muda (puber ke dua)
b. Takut akan kesehatannya
c. Pencegahan atau pengobatan berlebihan
d. Petualangan seksual
Keluhan-keluhan yang sering dialami oleh pria andropause antara lain adalah:
1. Dysphoria
Keluhan ini dapat dilukiskan sebagai kegelisahan, nyeri batin yang berat atau kesedihan. Secara medis dapat didefinisikan sebagai tidak tenang, gaduh gelisah, tidur gelisah dan tidak enak badan (malaise). Keluhan ini dapat dijelaskan sebagai “pria yang tidak bahagia”.
Beberapa ahli juga menggunakan istilah depresi yang termasuk didalamnya keadaan; lesu, menyendiri, gangguan tidur dan pola makan, putus asa serta berkurangnya ketajaman mental.
2. Anxietas (kecemasan)
Perasaan tidak pasti, bingung mengenai prioritas pekerjaan ataupun keputusan. Anxietas sering kali merupakan reaksi emosional terhadap perasaan salah atau tidak akan dapat mencapai tujuan. Pria ini kadang mudah tersinggung, kadang aneh (crancky), suka berselisih atau mudah naik darah. Suasana hati yang sering berubah-ubah ini merupakan tanda adanya andropause.
Keluhan ke dokter biasanya adalah kegelisahan dan gugup yang tidak diketahui sebabnya. Keluhan ini juga menghasilkan berbagai gangguan psikosomatis seperti :
a. Nyeri kepala
b. Gangguan pencernaan
c. Irritable bladder (gangguan pada kandung kemih)
3. Ketakutan
Rasa takut yang tidak diketahui sebabnya. Ketakutan yang menjadi kekhawatiran yang berlebihan. Biasanya pria andropause mencemaskan takut sakit, takut mati, takut status sosialnya hilang, kehilangan respek, takut kehilangan kontrol kehidupan dirinya sendiri.
4. Perasaan ketidakmampuan
Biasanya perasaan ketidakmampuan ini disublimasikan dengan cara menunjukkan simbol kekuatan, sukses finansial, seksualitas dan superioritas.
Keluhan biasanya ketidakmampuan masalah seksual seperti :
a. Kurang tertarik pada objek seksual
b. Kurang responsif pada stimulasi seksual
c. Kurang berminat terhadap percakapan seksual
d. Ereksi kurang keras
e. Pancaran ejakulasi lemah
f. Frekuensi hubungan seksual menurun dan sebagainya.
Perlu diingat bahwa tidak selalu semua gejala ditemui sekaligus dan gejala yang ditemukan beragam dalam keparahannya.
Tujuan pengobatan andropause adalah menghilangkan semaksimal mungkin keluhan yang diderita seperti berkurangnya libido, turunnya kemampuan ereksi. Selain itu pemberian androgen mencegah dan memperbaiki osteoporosis yang ada, menambah kekuatan otot serta mengembalikan kadar GH (Growth Hormon/Hormon pertumbuhan) pada tingkat normal. Pemberian vitamin, suplemen tinggi protein tinggi kalsium, kontrol diet juga sangat berguna.
Sangat penting juga untuk memperhatikan kondisi psikologis penderita dan direkomendasikan untuk konsultasi ke ahli jiwa atau psikolog.

Januari 3, 2009 - Posted by | kesehatan | , ,

2 Komentar »

  1. Baru tau aku bahwa pria juga bisa mengalami menopause. He.he.! Tapi blognya kayaknya perlu ditambah, nih. Kok cuman atu tulisan yang ada. Salam bagayaan. Rusdi

    Komentar oleh rusdi | Januari 31, 2009 | Balas

  2. makasih dok… ditunggu tulisan lainnya ya….salam dhydy

    Komentar oleh dee dee | September 16, 2013 | Balas


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.385 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: